Ayesha Dihya
Banyak dari kaum durjana berkumandang
Kami benci muak
Sumpah serapah diucapkan demi kepuasan
Kau sialan
Sarang penyakit
Sumber masalah
Sehingga tangan congkak itu
Tega melempar
Sampai kaki sombong yang dipuja
Rela menendang
Meringis penuh kebencian
Seorang pria kurus pemungut sampah
Kurus kering keriting
Punggung melengkung
Lebih mirip seperti kulit bambu yang dikupas
Perut tertarik kedalam
Dada yang penuh tanjakan
Sesekali mengembang penuh seakan ingin pecah
Pria kurus dengan tangan rapuh
Seakan mau patah
Memungut kesenangan
Membelai penuh kasih sayang
Menempatkan sesuai layaknya
Pria kurus dengan punggung berkilau
Seperti dilupakan
Dibenci dicaci dihina
Oleh kaum sombong
Yang merasa benar akan segala hal
Pria kurus penuh peluh
Langkahmu seperti bayi
Meringkuk penuh harap
Dari sampah yang dieja
Demi harta atau yang lainnya
Pria kurus pemungut sampah
Aku pria kurus pemungut sampah
Lamongan, April 2018
Label
Mata Pena Pantura
Puisi
Esai
Berita
Ayesha Dihya
Rakai Lukman
Nurel Javissyarqi
Sanggar Pasir
A.H. J Khuzaini
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Raudlotul Immaroh
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Uswatun Khasanah
Wigati S
Adinda Mutiara Cantika
Anindita S Thayf
Catatan
Cerpen
Deni Jazuli
Dian Najikhah
Dody Yan Masfa
Ella
Galuh Tulus Utama
Henni Roekhana
Ilma
Islachiyah WS
Isvada
J. Lanang
Jurnalisme Sastrawi
Kafe Sastra Sono Panceng Gresik
Karin
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoirun Niswatin
Ki Ompong Sudarsono
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
M. Lutfi
Mahendra Cipta
Muhammad Muhibbuddin
Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur
Nabilla Safitri
Pagelaran Musim Tandur
Sanggar Rumah Ilalang
Sholihul Huda
W.S. Rendra
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar