Ayesha Dihya
Langit itu aneh
Arakan awan serakah
Segalanya membumbung
Anganpun terbuai
Semuanya di angkasa raya
Gajahpun terbang
Hinggap di ujung-ujung menara
Merayap turun di sementara itu
Keseimbangan goyah
Jari-jari bergeser
Liang panjang merekah
Menembus aliran darah sampai ke
Jantung hati mencair
Deras menyirami serpihan air mata
Dari surga yang terbakar
Apakah kau lihat hutan itu
Firman mana yang kau genggam
Sabda siapa yang kau ikuti
Benteng-benteng pertahanan
Dari sapa suara
Lihatkah kau akan hutan itu
Hutan yang hilang
Yang hilang hutan di sementara itu
Gelak tawa menghiasi gemerlap cahaya
Jas-jas itu lebih menyilaukan
Dari meja kaca yang lebar
Dan singgasana yang berjejer
Di satu ruang yang sejuk
Penuh cahaya dimurka
Gresik, November 2018
Label
Mata Pena Pantura
Puisi
Esai
Berita
Ayesha Dihya
Rakai Lukman
Nurel Javissyarqi
Sanggar Pasir
A.H. J Khuzaini
Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan
Raudlotul Immaroh
Rumah Budaya Pantura (RBP)
Uswatun Khasanah
Wigati S
Adinda Mutiara Cantika
Anindita S Thayf
Catatan
Cerpen
Deni Jazuli
Dian Najikhah
Dody Yan Masfa
Ella
Galuh Tulus Utama
Henni Roekhana
Ilma
Islachiyah WS
Isvada
J. Lanang
Jurnalisme Sastrawi
Kafe Sastra Sono Panceng Gresik
Karin
Kemah Budaya Panturan (KBP)
Khoirun Niswatin
Ki Ompong Sudarsono
Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan
Komunitas Sastra Ilalang Indonesia (KSII)
M. Lutfi
Mahendra Cipta
Muhammad Muhibbuddin
Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur
Nabilla Safitri
Pagelaran Musim Tandur
Sanggar Rumah Ilalang
Sholihul Huda
W.S. Rendra
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar