Dalam
membaca sebuah buku membutuhkan kejelian dan ketelitian tersendiri. Menjadi seorang
apresiator buku, jika sekedar membaca seperti orang awan tentunya sambil lalu
saja. Sedangkan dalam tahapan membaca, yang pertama berprilaku informative reading, kedua: interpretative reading, dan ketiga: creative reading, ini saya peroleh
ketika menjadi moderator bedah karya Mahendra di SMAN I Sidayu Gresik, dia
mengutarakan hal itu di sela perbincangan buku karyanya “Kampung Terapung”. Kegiatan
apresiasi adalah pengenalan dalam pemahaman yang tepat, pertimbangan dan
penilaian, serta pernyataan yang memberikan penilaian. Adapun tingkatan seorang
apresiator karya adalah tingkat empatik, estetik dan apresiasi kritik.
Pada
tingkat apresiasi kritik memerlukan sebuah klarifikasi, deskripsi, menjelaskan,
menganalisa, dan mengevaluasi sehingga dapat diambil sebuah kesimpulan atau
penilaian. Jalan ini yang mencoba saya tempuh untuk memperoleh telaah terhadap
karya dalam bentuk buku “Alur Alun Tanjidor di Desa Lembor-Brondong-Lamongan
(1952-2019). Buku ini memperbincangkan kesenian di sebuah desa, yang mana desa
dulu-kini-esok menjadi pondasi berlangsungnya sebuah bangsa dan Negara.
Kesenian adalah bagian dari unsur-unsur kebudayaan, sebagaimana yang diuraikan
oleh C. Kluckhohn dalam karangannya yang berjudul “Universal Categories Of Culture” (1953). Tanjidor merupakan bagian
dari kesenian yang ada di Indonesia. Sehingga sepatutnya buku ini diapresiasi
selayaknya secara obyektif dengan sedikit mengesampingkan sesuatu yang bersiap
emosional.
Baiklah,
saya mulai dari cover buku, Nampak terlihat dari muka bukanya sudah lumayan
dengan cara mengambil ikon alat musik “jidor”. Sebagai perwakilan representasi
dari konten buku yang disajikan, bahkan ikonnya dalam bentuk lukisan, entah
alirannya apa?. Dari jidat buku tertera nama penulisnya, A.H.J Khuzaini dan
Ass. Roudhotul Imaroh. Seperti halnya “A.H.J” sebuah inisial, sedangkan “Ass.”
yang saya kira inisial ternyata ada motif tersembunyi. Ini sudah dibahas di
Media Sosial sehingga nampak riuh dan aduhai. Begitu juga A.H.J tertulis lebih
besar daripada R.I, saya serahkan pada audien saja ya kesimpulannya. Silahkan
dicek di Pengantar penulis pada halaman xv. Juga bisa dilihat di setiap lembar
pojok buku bagian bawah, cukup tertera A.H.J saja, yang R.I entah kemana?. Di bagian
bawah tertera Kata Sambutan: Dr. Yunronur Efendi. beliau adalah SekDa Lamongan,
dan Epilognya oleh Billy Ariez, pegiat literasi dan aktivis senior PMII. Akan
tetapi saya sedikit kecewa ketika edisi pertamanya ada sambutan dari Kepada
Desa Lembor, kenapa kok dihilangkan di edisi keduanya? Kita konfirmasi dengan
penulisnya ya?
Hm,
baru cover ya, Semoga agak seru, tapi jangan sampai saru ya! Buku ini berasal
dari skripsi yang ditulis oleh Roudhotul Immaroh dengan judul “Sejarah
Perkembangan Kesenian Tanjidor di Desa Lembor-Bondong-Lamongan (1952-2017)”
diperuntukkan untuk memperoleh gelar sarjana di UIN Sunan Ampel Surabaya. Yang
kemudian diangkat lagi oleh seniornya di teater Sabda, A.H.J Khuzaini. Yang
kemudian punya inisatif menjadikannya sebuah buku, yang mana bisa dikonsumsi oleh publik, tidak sekedar
menjadi artefak karya ilmiah di perpus dan koleksi pribadi si penulis skripsi.
Kita harus apresian dengan langkah yang ditempuh A.H.J. Salut buat Sodara!
Tindakan
yang dilakukan ini merupakan proses kebudayaan aktif. Yang mana wujud
kebudayaan ada tiga, sebagaimana yang terdapat dalam “Kapita Selekta
Manifestasi Budaya Indonesia, Bandung: Alumni, 1984”, Pertama: Kompleks Gagasan
(sistem budaya), kedua: kompleks aktivitas (sistem social), ketiga: komplek
benda (kebudayaan fisik). Proses penulisan buku ini menjadikan ketiga wujud itu
hidup menjadi satu kesatuan yang sirkular. Kegiatan yang dilakukan tentunya
mencurah tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit. Ada proses yang harus
dilalui seperti kesediaan si penulis skripsi, pihak kampus dalam hal ini UIN
Sunan Ampel Surabaya dan dosen penguji skripsi, jikalau itu dibutuhkan.
Kemudian ada proses penambahan beberapa tulisan dan validasi dari data-data
yang sudah ada dan menamba data-data yang lain dikarenakan judulnya sudah “Alur
Alun Tanjidor di Desa Lembor-Brondong lamongan (1952-2019)” meskipun sebenarnya
esensinya hampir sama antara “sejarah perkembangan” dan “Alur Alun”.
Buku
yang bersumber dari skripsi ini ditulis dengan menggunakan pendekatan etno historis (antropologi sejarah).
Dari kurun waktu yang relative panjang 1952-2019. Dan dibagi secara periodik;
periode I tahun 1952-1975 Masa Pertumbuhan, periode II tahun 1975-1994 Regenerasi,
Periode III tahun 1994-2019 Kebangkitan Kembali. Tiap periode tentunya memiliki
ciri khas dan tantangan tersendiri. Mari kita diskusi tentang perkembangan ini!
Sebelum itu kita telaah dulu tentang landasan historisitas penamaan “Tanjidor”
yang dikiblatkan ke ujung barat pulau jawa, yakni daerah DKI, tepatnya pada
kebudayaan Betawi, yang memiliki kesenian Tanjidor. Sehingga dengan nama yang
sama dianggap Tanjidor di Lembor ini asal muasalnya dari Betawi.
Kita
masuki BAB III tentang Tanjidor dan Manusia Nusantara yang menakjubkan, pada
hal. 56 ada pertanyaan yang asyik “Tanjidor Darimana Kau Datang?”. Kalau
sejarah perkembangan, Tanjidor Betawi sudah banyak yang menulis, bahkan kalau
kita searching pasti muncul. Salah satunya di www.indonesiakaya.com, diakses sendiri
ya wahai para audiens, yang Budiman!. Sedangkan kalau saya lebih tertarik
dengan pertanyaan “Tanjidor Desa Lembor, darimana kau datang?” pertanyaan ini
saya haturkan untuk menjadikan Tanjidor di Lembor atau apalah itu, lebih
percaya diri, sebagai pemilik kebudayaanya sendiri tanpa berkiblat pada Tanjidor
yang ada di betawi. Sehingga local wisdom
(kearifan lokal) dan in genius peoplenya
semakin tangguh dan percaya diri.
Kita
bisa lihat peta yang ada di halaman 68.
Jakarta-indramayu-cirebon-pemalang-semarang-kudus-Pati-Jepara-Lasem-Tuban-Gresik(Ujung
Pangkah)-Lamongan (Lembor). Peta penyebaran ini bagi saya masih janggal, kalau
tanjidor di Lembor berasal dari Tanjidor Betawi. Seolah ada patahan sejarah
yang muncul. Mari kita diskusikan ini wahai audiens yang Budiman!. Saya coba
tawarkan dengan pisau analisa yang barangkali sedikit menggelitik isi kepala,
tentang diskursus Michel Foucault dalam Arkeologi dan Genealogi-nya, yang mana
“pendekatan sejarah yang percaya begitu saja pada fakta-fakta dan
kejadian-kejadian yang umum diterima. Pendekatan ini bertugas merumuskan
relasi-relasi kausalitas, antagonism, atau ungkapan antar fakta dan seri-seri
kejadian yang satu dengan lainnya, yang mana harus membentuk seri-seri fakta
dan kejadian secara baru”.
Dalam
arkeologi kita akan menemui diskotinuitas antara monument yang satu dengan yang
lain. Demikian juga pendapat dari Habermas, tugas Arkeolog adalah mengembalikan
dokumen-dokumen yang bisa berbicara dengan monument-monumen yang bisu, yang
dibebaskan dari konteksnya untuk membuka jalan bagi penulisan strukturalis.
Dokumen adalah fakta-fakta dan kejadian historis yang telah diinterprestasikan
dalam totalitas dan finalitas yang jelas. Sedangkan monument-monumen adalah
fakta-fakta dan kejadian historis yang belum diinterprestasikan. Arkeologi
berusaha sampai pada monument-monumen itu untuk membentuk seri-seri baru.
Ini
perlu saya sampaikan agar kita tidak terjebak pada melodramatis proses penulisan
sebuah buku. Mari kita lanjutkan diskusinya! Seyogyanya adalah perjalanan alur
dari Jakarta ke Lembor, akan tetapi ada patahan sejarah ketika selepas dari
indramayu. Yang kalau kita lacak dari Definisi, beberapa karakter, alat musik,
komposisi dan misi kesenian sangat jauh berbeda antara tanjidor betawi dan
tanjidor lembor. Kita bisa melihatnya melalui kajian Difusi Budaya, yaitu;
penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang berdasarkan pertemuan-pertemuan antara
individu-. individu dalam kelompok suatu manusia dengan invidu kelompok
tetangga. Difusi ini akan memuncul Pertanyaan sederhana, adakah orang desa
Lembor pernah ke betawi atau sebaliknya?
Saya
lanjutkan Diskusi bukunya ya? Jika ditelaah perbedaanya keduanya. Kita lihat
dari awal mulai di periode I asal mula, bisa kita lihat bahwasannya tanjidor
Lembor bukan kelompok pemain musik melainkan seni pertunjukan pencak silat,
yang diiringi dengan musik. Yang kemudian kita kenal dengan macanan dan
kuntulan. Nah kalau begini tanjidor yang ada di Lembor tidak sama dengan yang
di Betawi. Asumsi saya sementara akar kesenian pertunjukan musik, pencak, dan
sulap ini berasal dari Ujung Pangkah Gresik. Ini dari pendekatan arkeologi,
menyingkap unsur-unsur terdalam dan tersembunyi dari masing-masing wacana,
sekaligus memperlihatkan perbandingan kebenaran yang diwacanakan dalam periode
sejarah” adapun pendekatan genealogi diperlukan mengungkapkan variable
tersembunyi dan sebab terjadinya perbedaan tersebut.
Mungkin
sedikit serius dalam diskusi kali ini? Kita bisa menggunakan metodenya F
Graebner (1877-1943) sebagaimana yang terdapat dalam bukunya “Methode der Ethnologie (1911)”. Metode
ini sebagai klasifikasi unsur-unsur kebudayaan dari berbagai tempat yang
dimasukan dalan kulturkreise, yakni;
lingkaran di muka bumi yang memiliki unsur-unsur kebudayaan yang sama. Prosedur
klarifikasinya sebagai berikut: (1) peneliti harus melihat di tempat-tempat
mana terdapat unsur-unsur kebudayaan yang sama. Kesadaran persamaan dicapai
dengan alasan perbandingan berupa ciri-ciri unsur-unsur tersebut, yang biasa
disebut Qualitats Kriterium. (2)
peneliti melihat apakah unsur yang satu sama dengan unsur yang lain, alasan
perbandingan berupa sejumlah banyaknya (kuantitas) dari berbagai unsur
kebudayaan, yang disebut Quantitats
Kriterium. (3) Peneliti menggolongkan ketiga tempat tersebut, yang
seolah-olah menempatkan pada satu lingkaran, yang ketiganya menjadi Kulturkreise (Koentjaraningrat, Sejarah
Teori Antropologi I, 1987).
Saya
mencoba mulai mencari persamaan dan perbedaan dari Tanjidor di Betawi, Tanjidor
di Lembor dan Macanan di Gresik Utara. Mari kita telisik tentang alat musik
yang digunakan dalam Tanjidor Betawi. Jenis-jenis alat musik di Tanjidor Betawi
adalah sebagaimana berikut; Klarinet (alat music tiup), French horn (alat music tiup), Trombon, Saxofon, Tenor horn, Drum, Simbal, dan Tambur,
ini bisa dilacak di buku halaman 58. Adapaun jenis-jenis alat music di Tanjidor
Lembor adalah sebagai berikut: Gendang, rebana, Jidor, kendang, terkadang ada
tambahan gamelan, gong dan lain-lain. Sedangkan di pencak macan, atau macanan
alat music yang digunakan, sebagaimana berikut: kendang, Gong, Gamelan, Jidor
dan rebana. Dari alat yang digunakan tentunya komposisi yang dihasilkan juga
berbeda. Adapun di Lembor dan Pangkah ciri dan karakteristiknya sama.
Kita
runut lagi ya, audiens yang budiman! Ini dari bentuk penyajiannya. Kalau
Tanjidor di Betawi, merupakan seni musik yang banyak di pengaruhi oleh
kebudayaan Eropa, yang merupakan ensemble atau permainan musik yang dilakukan
bersama-sama. Nama ini lahir di era kolonial Belanda. Kata Tanjidor berasal
dari bahasa Portugis “Tangedor”. Lebih lengkapnya bisa dibaca di buku halaman
62. Pertunjukan ini dimainkan oleh 7 sampai 10 orang, yang selanjutnya
ditambahi dengan iringan boneka besar, yang disebut ondel-ondhel, lagu-lagu
yang dibawakan antara lain, Kramto, Bananas, Cente Manis, keramat karam,
merpati putih, surilang dan lain-lain. Salah satu terekam dalam cerita tutur
yang ditulis Tio Tek Hong; “Emak, bapak si nona mati, saying disayang tiap malam
saya tangisin, kramat karem ada lagunya”.
Sedangkan
Penyajian Tanjidor Lembor, termasuk dalam pertunjukan yang menggabung seni
pertunjukan dan musik, sebagai pengiring. Suguhan kesenian ini adalah pencak
silat (macanan dan kuntulan) serta kesenian sulap, terkadang debus. Juga ada
pembacaan sholawat barzanji dan tembang-tembang berbahasa jawa. Salah satunya
Damar Muncar:
Damar muncar-damar
muncar neng dhuwur langgar
Ing langgare-ing
langgare kiai-santri
Kiai-santri aweh hurmat
kanjeng Gusti
Ringin kurung-ringin
kurung pasebane
Pasebane-pasebane kiai
santri
Kiai-santri aweh hurmat
kanjeng Gusti
Paket
lengkapnya bisa dilacak di buku halaman 82. Penyajian yang hampir mirip bisa
kita lacak di Fakri Badri Rizal yang menulis di Jurnal Avatara, e-Jurnal
Pendidikan Sejarah, vol. 5, N0. 3 Oktober 2017, menulis tentang kesenian
macanan di desa kisik kecamatan bungah kebupaten Gresik (1958-1995). Dia
menyimpulkan karakteristik kesenian macanan pada tahun 1958-1990 berbeda dengan
1990-1995. Adapun di tahun 1958-1990 memiliki karakteristik: 1) Pemain macanan
didominasi orang dewasa dengan kemampuan tenaga dalam yang didapat melalui
puasa mutih yang diakhiri dengan pati geni. 2) pemimpin kelompok bertugas
menjadi pengatur pertunjukan kesenian macanan, 3) peralatan macanan disediakan
oleh tuan rumah, 4)variasi gerakan dilakukan oleh pemain macanan. 5)
menggunakan atribut sesuai peran. 6) Pementasan diiringi kendang dan jidor.
Sedangkan
karakteristik pada tahun 1990-1995, 1) pemimpim kelompok macanan tidak lagi
mengatur, tetapi beralih menjadi pembawa acara dan komentator pertunjukan. 2) pemain
kesenian macanan didominasi oleh pemuda tanpa menggunakan tenaga dalam dan
hanya menggunakan gerakan silat serta beberapa kunci gerakan macanan.
3)pementasannya diiringi dengan kendang dan jidor, juga oleh kibor. Hal ini
bisa kita tarik kesimpulan sementara bahwasannya Tanjidor yang ada di Desa
Lembor bukanlan berasal dari Betawi, akan tetapi berasal dari Gresik belahan
utara.
Dalam
tulisan tersebut juga menampilkan sesuatu yang menarik. Penulisnya mengungkap
adanya pencak macan di era sebelum kemerdekaan dan masa revolusi fisik
penyajian kesenian macanan. Kesenian ini sarat dengan unsur magis dari
pemainnya. Seorang pemain macanan adalah laki-laki dewasa yang menggunakan ilmu
kanuragan untuk kekebalan tubuh agar tidak merassakan sakit ketika memainkan
macanan. Melalui kesenian ini pula sebagai sarana pemberian tenaga dalam dan
ilmu bela diri. Ilmu itu digunakan untuk menanggulangi penderitaan rakyat atas
kekejaman serta digunakan sebagai kekuatan untuk melawan penjajah belanda.
Kesenian tradisional ini banyak menonjolkan unsur beladiri dan gerakan tari
yang sederhana, yang berorientasi pada kehidupan jiwa dan perlindungan diri.
Kiranya
saya cukupkan sekian dulu, melihat buku dari jendela yang lain lebih
mengasyikan daripada sekedar pledoi dan melankolia semata. Inilah pengantar
menuju diskusi dan Bedah Buku “Alur Alun Tanjidor Desa Lembor-Brondong-Lamongan
(1952-2019). karya dua penulis: A.H.J. Khuzaini dan Roudhatul Immaroh, dengan
moderator Sholihul Huda. Pembedah: Nurel Javissyarqi dan Rakai Lukman.
Diselenggarakan di Sanggar Pasir, Pukul 13.00 WIB-selesai, hari Jumat 17
Januari 2020. Support by Mata Pena Pantura, Sanggar Pasir, Pustaka Pujangga,
Kotaseger dan segenap rumput dan dedaunan. Semoga ini adalah perjumpaan
kebudayaan yang progress dan berkelanjutan!
Salam
Budaya, Salam Berdaya
Dukun,
Januari 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar