Senin, 25 November 2019

LIMA PULUH JUTA UNTUK PENGULAS BUKU

Anindita S Thayf
Harian Fajar, 27/10/2019

Salah satu esai George Orwell, dalam buku Bagaimana Si Miskin Mati, mengangkat tema menarik, yaitu tentang pengulas buku. Profesi ini tidak sementereng novelis, cerpenis, apalagi penyair. Kendati begitu, sesungguhnya pengulas buku mempunyai peran yang tidak kalah penting dalam dunia literasi. Ironisnya, hanya sedikit pengulas buku yang benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik.

Orwell menilai bahwa sebagian besar “ulasan buku memberikan keterangan yang menyesatkan.” Ini terjadi karena banyak pengulas buku yang tidak becus. Pengulas buku semacam itu bisa muncul karena hanya “mengejar setoran” untuk membedah buku sebanyak-banyaknya. Ulasannya pun sebatas menghasilkan klise-klise sebagaimana yang dicontohkan Orwell: “buku yang wajib dibaca”, “... membuat pembaca terkesan di setiap halamannya”, atau “bagus sekali bab yang membahas tentang...” Dengan ulasan semacam itu, pembaca tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali pernyataan bernada iklan.

Sejatinya, pengulas buku bukan “tukang gorengan” yang bertugas untuk “menggoreng” atau menggelembungkan sebuah karya hingga tampak jauh melampaui aslinya, entah lebih berbobot atau bermutu. Kita sering mendapati pengulas buku semacam ini, terutama saat mengenalkan karya sastra Indonesia ke luar negeri. Umpamanya, karya seorang pengarang Indonesia yang diperkenalkan ke publik Barat sebagai pewaris Pramoedya Ananta Toer atau yang terinspirasi Nikolai Gogol. Sebagai bentuk penggorengan, tentu tidak perlu dijelaskan bagian mana dari karya pengarang tersebut yang sesuai klaim. Yang penting, ulasan itu menempelkan nama-nama besar pengarang dunia dan dimuat di media ternama Barat.

Pengulas buku yang baik tentu akan memberikan penjabaran yang utuh dari sebuah karya. Khusus karya sastra, setidaknya hal itu terdiri dari dua unsur, yaitu bentuk dan isi. Masing-masing unsur tersebut kemudian dikuliti secara tajam sehingga, selain menghasilkan ulasan yang informatif, juga memberikan perspektif pembacaan yang bisa memancing pembaca ulasan untuk bersikap lebih cerdas kala memilih bacaannya. Artinya, selain memperkenalkan suatu buku, ulasan buku juga perlu menghadirkan kritik atas karya itu di dalamnya.

Banyak karya sastra bagus yang mulanya tidak dikenal publik, tapi mengalami perubahan nasib berkat peran pengulas buku. Umpamanya, Marx Havelaar karya Multatuli. Mulanya, karya itu tidak dikenal luas oleh pembaca negeri ini kendati berisi hal yang sangat penting: tentang kolonialisme Belanda di tanah Hindia Belanda. Barulah setelah Kartini memberikan ulasan singkat dalam suratnya, karya tersebut mulai dikenal. Pengenalan lebih luas terjadi ketika Bintang Timur, sebuah mingguan yang dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat, memberikan ulasan sekaligus menerjemahkan karya Multatuli, sebelum kemudian H.B. Jassin menerjemahkannya secara lengkap. Kini, Multatuli termasuk salah satu karya yang sudah diakrabi publik dan pembaca Indonesia, bahkan telah menginspirasi lahirnya Museum Multatuli di Lebak, Banten.

Di luar sastra, pengulas buku juga berperan menggali kembali karya yang sudah hilang. Akibat pembakaran perpustakaan kala perang, salah satunya perpustakaan Aleksandria di Mesir, banyak pemikiran era Yunani di segala bidang lenyap. Karya-karya ini bisa kembali muncul salah satunya berkat ulasan-ulasan intelektual muslim di Cordoba, Spanyol. Lewat peran para pengulas buku, karya-karya yang hilang tersebut bisa terlahir kembali dan mengilhami hadirnya pemikiran-pemikiran baru yang kelak membuat Eropa mampu keluar dari Abad Kegelapan.

Penghargaan

Usia pengulas buku sama tuanya dengan buku itu sendiri. Ulasan buku muncul di berbagai media, mulai dari majalah, jurnal, surat kabar hingga media online. Sampai sekarang, rubrik untuk ulasan buku masih tersedia di media-media tersebut walaupun dengan ruang yang kian terbatas. Panjang ulasan buku di surat kabar, umpamanya, tidak boleh lebih dari 700 kata. Padahal, untuk menghasilkan ulasan yang tajam, sebagaimana ujar Orwell, dibutuhkan ruang minimal 1000 kata. Kabar baiknya, beberapa media online yang tidak pelit ruang bersedia memberikan kesempatan pada ulasan yang lebih panjang untuk tampil.

Namun, banyaknya media yang bersedia memuat ulasan buku tidak bisa dilihat sebagai suatu kesempatan untuk menjadikan pengulas buku sebagai profesi. Oleh media, satu ulasan buku dihargai sangat murah, bahkan ada yang menganggapnya sumbangan karena tidak berhonor. Pengulas buku pun hanya menjadi pekerjaan sampingan atau sekadar hobi. Di tengah kondisi yang mengenaskan ini, syukur-syukur jika ada satu-dua pengulas buku yang bisa menghasilkan ulasan berbobot. Ulasan yang berhamburan di media sekarang lebih banyak beraroma iklan yang berisi sinopsis dan puja-puji semata.

Kecilnya honorarium ulasan buku memberikan kendala tersendiri bagi si pengulas buku. Untuk bisa mengulas suatu buku, si pengulas buku tentu harus membeli buku tersebut. Dengan harga buku dan honorarium yang tidak sebanding, pengulas buku sulit menjalankan pekerjaannya dengan baik. Memang, ada segelintir pengulas buku yang mendapat pesanan khusus dari penerbit sehingga bisa mendapatkan buku gratis. Namun, buku yang diberikan penerbit belum tentu sesuai dengan kapasitas atau selera si pengulas buku. Hasilnya, ulasan yang diberikan lebih sering asal-asalan.

Salah satu jalan agar lahir pengulas buku berkualitas adalah dengan meminta bantuan pemerintah. Pemerintah bisa memberikan apresiasi kepada profesi ini dalam bentuk penghargaan. Dari 59 orang penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tidak ada seorang pengulas buku pun yang mendapatkannya. Padahal, pengulas buku ibarat jembatan yang menghubungkan buku dan pembaca. Pengulas buku adalah duta baca non resmi yang, dengan caranya sendiri, memberikan kontribusi yang cukup besar dalam meningkatkan minat baca masyarakat.

Bila seorang sastrawan berlabel internasional saja merasa dianaktirikan oleh pemerintah hanya karena kecilnya jumlah penghargaan yang hendak diberikan kepadanya, nasib pengulas buku apa lagi: setragis anak tiri yang dibuang dan tidak diakui. Selain tidak pernah diundang dan diajak bepergian ke ajang sastra internasional di luar negeri, belum pernah pula ada penghargaan untuk pengulas buku sejak bangsa ini lahir. Namun, sekiranya suatu saat nanti pemerintah tergerak memberikan penghargaan sebesar 50 juta kepada pengulas buku, hal itu tentu tidak akan ditolaknya. Selain bisa dipakai untuk membeli buku-buku berkualitas, uang tersebut—terlepas dari jumlahnya—juga adalah bukti bahwa perhatian dan harapan itu ternyata masih ada. ***

*) Anindita S. Thayf lahir pada 5 April 1978 di Makassar. Menulis cerpen dan novel. Novelnya, Tanah Tabu (Gramedia Pustaka Utama, 2009), menjadi juara I lomba menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2008, finalis Khatulistiwa Literary Award 2009, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Daughters of Papua (Dalang Publishing, San Francisco, 2014).
https://www.facebook.com/anindita.thayf/posts/10206741204886951

Tidak ada komentar:

Posting Komentar